PRODUKSI MEDIA CETAK DAN KIT
Produksi Media Cetak
Pembicaraan tentang media cetak berarti membicarakan pers. Sebab terminologi pers terdiri dari: Pertama, pers dalam arti luas adalah seluruh alat komunikasi massa baik cetak maupun elektronik. Kedua, pers dalam arti sempit secara spesifik tertuju pada media cetak berbentuk surat kabar dan majalah. Dalam berbagai literatur surat kabar digunakan sebagai sebutan untuk media cetak yang content-nya mengutamakan hasil jurnalisme berbentuk berita (news). Sementara sebutan untuk pers digunakan untuk seluruh media massa tercetak yang terbit secara reguler baik yang mengutamakan jurnalisme maupun hiburan.
Pada
akhir abad ke-19 muncul beberapa media cetak seperti surat kabar, buku, dan
majalah yang digunakan secara luas oleh masyarakat. Media ini kemudian
berkembang luas hingga kini dan memiliki jenis yang beragam yang dapat
dikelompokan menjadi sembilan jenis.

A. Konsep Dasar Berita
Berita atau NEWS (Inggris) seringkali ditafsirkan sebagai singkatan dari: North; East; West; South yang bermakna setiap realitas sosial dari empat penjuru arah mata angin berpotensi jadi berita.
Berita atau NEWS (Inggris) seringkali ditafsirkan sebagai singkatan dari: North; East; West; South yang bermakna setiap realitas sosial dari empat penjuru arah mata angin berpotensi jadi berita.
B. Teknik Mencari Berita
Pertama, secara umum: (1). Observasi adalah pengamatan realitas oleh jurnalis baik secara langsung (participant observation) maupun tidak langsung (non participant observation); (2). Wawancara (interview) adalah tanya jawab baik lisan maupun tulisan dengan nara sumber yang terdiri dari pengumpulan pendapat umum (man in the street interview), wawancara mendadak (casual interview), wawancara tokoh (personal interview), wawancara nara sumber yang terkait dengan berita (newspeg interview), wawancara telepon (telephone interview), wawancara tertulis (question interview) dan wawancara kelompok (group interview); (3). Cover up adalah sejenis wawancara juga untuk menyusun suatu laporan yang dilengkapi dengan pengaruhnya terhadap masyarakat; (4). Press release adalah siaran pers yang dikeluarkan oleh nara sumber yang biasanya berbentuk institusi kepada jurnalis.
Pertama, secara umum: (1). Observasi adalah pengamatan realitas oleh jurnalis baik secara langsung (participant observation) maupun tidak langsung (non participant observation); (2). Wawancara (interview) adalah tanya jawab baik lisan maupun tulisan dengan nara sumber yang terdiri dari pengumpulan pendapat umum (man in the street interview), wawancara mendadak (casual interview), wawancara tokoh (personal interview), wawancara nara sumber yang terkait dengan berita (newspeg interview), wawancara telepon (telephone interview), wawancara tertulis (question interview) dan wawancara kelompok (group interview); (3). Cover up adalah sejenis wawancara juga untuk menyusun suatu laporan yang dilengkapi dengan pengaruhnya terhadap masyarakat; (4). Press release adalah siaran pers yang dikeluarkan oleh nara sumber yang biasanya berbentuk institusi kepada jurnalis.
C. Perbedaan Fakta
dengan Opini
Dalam konteks jurnalisme dibedakan secara tegas antara fakta (fact) dengan opini (opinion). Dunia jurnalistik mengenal tiga jenis fakta sebagai berikut: Pertama, fakta pertama: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya.
Dalam konteks jurnalisme dibedakan secara tegas antara fakta (fact) dengan opini (opinion). Dunia jurnalistik mengenal tiga jenis fakta sebagai berikut: Pertama, fakta pertama: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya.
D. Aliran Jurnalisme
Pertama, jurnalisme obyektif: membedakan dengan tegas antara fakta dengan opini. Kedua, jurnalisme baru: kombinasi sastra berupa opini jurnalis dengan teknik jurnalistik. Misalnya, jurnalisme gaya Majalah TEMPO ketika dipimpin oleh Goenawan Mohammad. Ketiga, jurnalisme investigatif: penyelidikan mendalam dalam pemberitaan.
Pertama, jurnalisme obyektif: membedakan dengan tegas antara fakta dengan opini. Kedua, jurnalisme baru: kombinasi sastra berupa opini jurnalis dengan teknik jurnalistik. Misalnya, jurnalisme gaya Majalah TEMPO ketika dipimpin oleh Goenawan Mohammad. Ketiga, jurnalisme investigatif: penyelidikan mendalam dalam pemberitaan.
2. Karakteristik Media
Massa Cetak
Majalah
hadir diawali dengan ditemukannnya mesin cetak pada awal abad ke 16. Seiring
dengan keadaaan masyarakat yang telah meningkat kemampuan literasinya dan
kesadaran masyarakat terhadap hal-hal baru, pada abad ke 18, majalah mulai
mendapatkan ruang dalam masyarakat. Pada abad ke 19, merupakan awal
pendistribusian majalah secara massal ke berbagai lapisan masyarakat. Pada abad
ke 20, majalah mulai menempati variasi kebutuhan masyarakat, dengan
lahirnya majalah berita (Septiana santana, 2005: 90-91).
lahirnya majalah berita (Septiana santana, 2005: 90-91).
1.
Penyajian Lebih Dalam
Frekuensi majalah umumnya adalah mingguan, selebihnya dua minguan, satu bulanan, bahkan triwulanan. Majalah berita bisanaya terbit mingguan, sehingga para wartawanrnya mempunyai waktu yang cukup lama untuk memahami dan mempelajari suatu peristiwa. Para wartawan juga mempunyai waktu untuk menganalissis terhadap berita, sehingga penyajian
berita dan informasinya dapat dibahas secara mendalam (Adianto
dan Aerdiana, 2004 : 113).
Frekuensi majalah umumnya adalah mingguan, selebihnya dua minguan, satu bulanan, bahkan triwulanan. Majalah berita bisanaya terbit mingguan, sehingga para wartawanrnya mempunyai waktu yang cukup lama untuk memahami dan mempelajari suatu peristiwa. Para wartawan juga mempunyai waktu untuk menganalissis terhadap berita, sehingga penyajian
berita dan informasinya dapat dibahas secara mendalam (Adianto
dan Aerdiana, 2004 : 113).
2.
Nilai Aktualitas Lebih Lama
Nilai aktualitas majalah lebh lama dibandingkan dengan surat kabar, yaitu selma satu minggu. Surat kabar nilai aktualitasnya hanya satu hari pada saat peristiwa terjadi, karena peristiwa berkembang dari hari ke hari.
Nilai aktualitas majalah lebh lama dibandingkan dengan surat kabar, yaitu selma satu minggu. Surat kabar nilai aktualitasnya hanya satu hari pada saat peristiwa terjadi, karena peristiwa berkembang dari hari ke hari.
3.
Gambar dan foto lebih banyak
Jumlah halaman dalam majalah lebih banyak, sehingga selain penyajian yang mendalam, majalah dapat menampilkan gambar dan foto yang lengkap, sesuai dengan ukuran yang besar dan berwarna, serta kualitas kertas yang digunakan pun lebih
baik. Foto-foto yang ditampilkan majalah memiliki daya tarik terlebh biasanya foto dalam majalah sifatnya ekslusif.
Jumlah halaman dalam majalah lebih banyak, sehingga selain penyajian yang mendalam, majalah dapat menampilkan gambar dan foto yang lengkap, sesuai dengan ukuran yang besar dan berwarna, serta kualitas kertas yang digunakan pun lebih
baik. Foto-foto yang ditampilkan majalah memiliki daya tarik terlebh biasanya foto dalam majalah sifatnya ekslusif.
4. Cover (sampul) sebagai daya tarik
Cover majalah lazimnya menggunakan jenis kertas yang lebih bagus dengan gambar dan warna yang berkualitas. Menarik atau tidak menariknya sampul majalah tergantung pada tipe suatu majalah, serta konsistensinya majalah tersebut dalam menampilkan karakteristiknya.
Cover majalah lazimnya menggunakan jenis kertas yang lebih bagus dengan gambar dan warna yang berkualitas. Menarik atau tidak menariknya sampul majalah tergantung pada tipe suatu majalah, serta konsistensinya majalah tersebut dalam menampilkan karakteristiknya.


Komentar
Posting Komentar